seputarindonesiatv.id || SIDOARJO — Lapangan sepak bola bukan satu-satunya yang menjadi pusat perhatian dalam Malam Puncak Liga Jawara 2026 di Balongbendo, Sidoarjo. Ajang yang digelar di depan Kantor Baam Entertainment, Dusun Kendal, Desa Bakung Pringgodani, Minggu (30/8/2026) malam, justru mempertemukan olahraga, budaya, teknologi hingga ekonomi kreatif dalam satu panggung.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemkab Sidoarjo menggandeng Pemerintah Desa Bakung Pringgodani, Polsek Balongbendo, Koramil Balongbendo, Baam Entertainment dan RS Anwar Medika dalam penyelenggaraannya.

Beragam kegiatan disuguhkan dalam malam puncak tersebut. Mulai dari Gowes Kirab Kemerdekaan, kompetisi Street Football, pertunjukan Reog Suro Bekti Budoyo, visual mapping hingga pemutaran film bertema kemerdekaan.

Konsep itu membuat Liga Jawara tidak berhenti sebagai kompetisi olahraga. Ajang tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa potensi masyarakat di tingkat desa dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.

Camat Balongbendo Ardi Anindita yang hadir mewakili Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan seluruh pihak dalam kegiatan tersebut.

Menurut Ardi, Liga Jawara dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga budaya sekaligus mengembangkan potensi masyarakat.

“Budaya dan kearifan lokal kita, mulai dari Reog sampai Liga Jawara, sepak bola jalanan ala kampung, tetap bisa lestari. Tanpa dukungan dari kita sendiri, budaya itu pasti akan hilang,” ujarnya.

Ia menilai kekompakan dan keguyuban warga menjadi modal penting untuk mengangkat potensi Balongbendo agar tidak hanya dikenal di tingkat kabupaten, tetapi juga mampu berkembang hingga tingkat provinsi maupun nasional.

Olahraga Jadi Pintu Masuk Ekonomi Kreatif

CEO Baam Entertainment Billy Arizona menegaskan bahwa Liga Jawara sejak awal tidak dirancang sekadar sebagai kompetisi sepak bola.

Menurutnya, olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk mempertemukan kreativitas, teknologi, budaya dan ekonomi daerah.

“Kita sedang membuktikan bahwa kreativitas, olahraga, teknologi, dan budaya bisa berdiri bersama untuk menggerakkan ekonomi daerah. Inilah Liga Jawara,” kata Billy.

Ia juga menilai olahraga dapat menumbuhkan sportivitas, sementara teknologi dan kreativitas membuka ruang bagi generasi muda untuk menghasilkan karya baru.

Di sisi lain, budaya tradisional seperti Reog tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.

Billy mengingatkan agar kemajuan teknologi dan ekonomi kreatif tidak membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya.

“Kita boleh modern, tapi jangan kehilangan akar. Kita boleh maju, tapi jangan meninggalkan budaya. Kita boleh berkompetisi, tapi jangan kehilangan persaudaraan,” tegasnya.

Pinggiran FC Keluar sebagai Jawara

Di arena kompetisi Street Football kategori usia 10–14 tahun, Pinggiran FC berhasil keluar sebagai juara pertama Liga Jawara 2026.

Posisi kedua ditempati Satria Muda, sedangkan Seven United harus puas berada di peringkat ketiga.

Piala juara pertama diserahkan langsung oleh Ketua Askab PSSI Sidoarjo Puji Daryo. Sementara itu, doorprize berupa sepeda bagi peserta Kirab Kemerdekaan diraih Senkom Porong.

Kepala Desa Bakung Pringgodani Sa’i turut mengapresiasi pelaksanaan Liga Jawara yang berlangsung di wilayahnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar dengan skala dan kemeriahan yang lebih besar.

Malam puncak kemudian ditutup dengan pertunjukan seni Reog Suro Bekti Budoyo serta sajian visual digital.

Perpaduan tersebut sekaligus memperlihatkan pesan utama Liga Jawara 2026: kampung tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertandingan, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuh bagi olahraga, budaya, kreativitas dan ekonomi masyarakat.

Editor : Sundary