seputarindonesiatv.id || Surabaya – Kebakaran yang terjadi di Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD dr Soetomo mendapat sorotan dari aktivis antikorupsi Jawa Timur, Acek Kusuma.
Direktur APMP Jatim tersebut menyampaikan belasungkawa atas musibah yang menimpa rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Timur itu. Ia juga meminta aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti kebakaran.
“Aktivis Anti Korupsi Jatim mengucapkan belasungkawa dan duka cita atas musibah di RS Soetomo. Acek Kusuma berharap aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan,” ujar Acek Kusuma, Jumat (15/5/2026).
Menurut Acek, peristiwa kebakaran tersebut perlu diusut secara terbuka dan transparan. Pasalnya, insiden itu terjadi di tengah sorotan publik terhadap RSUD dr Soetomo yang sebelumnya dilaporkan terkait dugaan skandal korupsi senilai Rp297 miliar dalam kurun waktu 2015 hingga 2024.
Ia menyebut laporan dugaan korupsi yang dilayangkan pihaknya kini telah memasuki tahap penyelidikan. Karena itu, aparat penegak hukum diminta tidak hanya fokus pada penyebab kebakaran, namun juga memastikan seluruh proses hukum berjalan profesional dan independen.
“Di tengah momentum gempuran aktivis antikorupsi Jatim yang melaporkan RSUD dr Soetomo atas dugaan skandal korupsi Rp297 miliar sepanjang tahun 2015-2024, kini gedung yang sedang disorot media nasional terbakar. Entah sebab apa, polisi harus segera melakukan penyelidikan. Di sisi lain, kasus yang dilaporkan sudah masuk tahap penyelidikan,” tegasnya.
Sebelumnya, kebakaran dilaporkan terjadi di salah satu gedung layanan milik RSUD dr Soetomo di Surabaya. Akibat kejadian tersebut, sejumlah pasien sempat dievakuasi ke lokasi yang lebih aman untuk menghindari risiko lebih besar.
Petugas pemadam kebakaran bersama pihak rumah sakit bergerak cepat melakukan penanganan di lokasi kejadian. Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak berwenang.
Acek berharap proses penyelidikan dilakukan secara profesional, transparan, dan tidak memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat.
Editor : Red







