seputarindonesiatv.id || SIDOARJO — Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mulai mempertimbangkan pembangunan Flyover Gedangan dengan kapasitas lalu lintas jangka panjang hingga 30 tahun ke depan. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah desain flyover dengan enam lajur.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam rapat pembangunan Flyover Gedangan yang digelar di ruang Delta Wicaksana Setda Sidoarjo, Selasa (22/9/2026).

Rapat dihadiri sejumlah pihak terkait, di antaranya Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V Jawa Timur–Bali, pihak yang menangani proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) serta PDAM Surabaya yang jaringan distribusi airnya terdampak pembangunan flyover.

Pemkab Sidoarjo juga meminta masukan dari Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Jawa Timur untuk memastikan desain pembangunan dapat mengakomodasi kebutuhan lalu lintas dalam jangka panjang.

Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air Sidoarjo, Mahmud, menyampaikan bahwa Pemkab Sidoarjo mendorong agar pembangunan Flyover Gedangan tidak hanya menyelesaikan persoalan kemacetan saat ini, tetapi juga memperhitungkan perkembangan lalu lintas hingga puluhan tahun mendatang.

Menurutnya, konsep awal membagi jalur menjadi tiga lajur di setiap sisi jalan. Tiga lajur tersebut diproyeksikan melayani arus kendaraan dari arah Sidoarjo menuju Surabaya maupun sebaliknya.

“Pertimbangannya nanti kemampuan enam lajur ini dihitung jika kita hitung 30 tahun. Tapi kalau empat lajur, maka titik jenuhnya nanti di 15 tahun,” ujar Mahmud.

Ia menambahkan, apabila kapasitas jalan hanya dibangun empat lajur, penambahan kapasitas di kemudian hari berpotensi membutuhkan pekerjaan kembali yang lebih besar. Selain itu, pembebasan lahan juga menjadi salah satu pertimbangan.

“Kalau kita ukur sampai dengan 30 tahun, jadi jangka panjangnya supaya tidak ada lagi pembebasan lahan,” katanya.

Terkait Jalur Kereta Api
Pembahasan desain flyover juga berkaitan dengan rencana pengembangan jalur kereta api. Pemkab Sidoarjo mempertimbangkan adanya rencana pembangunan jalur ganda kereta api serta proyek SRRL yang juga membutuhkan ruang.

Karena itu, desain Flyover Gedangan dinilai perlu diselaraskan sejak awal agar tidak menimbulkan persoalan ketika pembangunan infrastruktur lainnya dilaksanakan.

“Jangan sampai pembangunan sekarang awal, dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan pada tahap pembangunan selanjutnya. Untuk itu, pembebasan dan kebutuhan lahan masih harus dibicarakan lagi bersama KAI,” ujar Mahmud.

Ia mengatakan, koordinasi dengan PT KAI masih diperlukan untuk memastikan kebutuhan lahan dan desain pembangunan dapat diselaraskan.

“Yang kendalanya ini. Hanya itu saja. Ini kalau KAI belum bisa hadir, maka kami akan koordinasi lebih lanjut,” imbuhnya.

Sementara itu, Satker P2JN Jawa Timur Indi Sasongko menyatakan diperlukan kesepahaman bersama, khususnya dengan PT KAI sebagai pemilik lahan yang berpotensi terdampak pembangunan.

Menurut Indi, pembahasan desain masih membutuhkan kesepakatan mengenai kebutuhan lahan serta pembagian jalur.

“Kalau menggunakan enam jalur, masing-masing sisi tiga atau dua jalur di masing-masing sisi. Tapi dari Pemkab berharap tiga jalur per masing-masing sisi di bawah flyover,” jelasnya.

Jika konsep enam lajur diterapkan, masing-masing arah akan memiliki tiga lajur. Tiga lajur dari arah Surabaya menuju Sidoarjo akan melayani pergerakan kendaraan hingga kawasan Sedati, sedangkan tiga lajur dari arah Sidoarjo menuju Surabaya diarahkan menuju jalur lurus ke Surabaya.

Indi menilai pembagian tersebut perlu dihitung secara matang, terutama berkaitan dengan kebutuhan lahan milik PT KAI dan proyeksi lalu lintas jangka panjang.

“Kalau empat jalur dengan masing-masing sisinya dua jalur artinya lahan Kereta Api yang terdampak memang lebih sedikit. Tapi memang secara lalu lintas itu memang lebih ideal kita menggunakan enam. Enam jalur itu maksudnya masing-masing tiga jalur,” pungkasnya.

Editor : Sundary