seputarindonesiatv.id || Bojonegoro – Bertempat di Ruang Angling Dharma, gedung Pemkab Bojonegoro, dilakukan Pencanangan Desa Cinta Statistik (Cantik) Kabupaten Bojonegoro sekaligus dilakukan penyerahan penghargaan kepada tiga desa yang resmi menyandang sebagai Desa Cantik di 2026. Tiga desa tersebut adalah Desa Rendeng, Kecamatan Malo; Desa Pakuwon, Kecamatan Sumberejo; dan Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan.
Desa Rendeng Kecamatan Malo yang telah lama dikenal sebagai ‘Pusat Kerajinan Gerabah’ terbesar di Kabupaten Bojonegoro. Sentra Kerajinan Gerabah ini telah berkembang secara turun-temurun dan menjadi ciri khas sekaligus sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Keberadaan Sentra Gerabah tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tapi juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan, pelajar, hingga pelaku usaha. Sekaligus memperkuat peran desa sebagai pusat ekonomi kreatif dan pelestarian budaya lokal yang berkelanjutan.
Sementara Desa Pekuwon Kecamatan Sumberrejo dikenal atas kemajuan pelayanan publik dan pengelolaan administrasi data secara statistik yang sudah mumpuni dan kemandirian sumber daya air bersih (HIPPAM). Dikenal dengan desa inovatif yang tercermin dari penerapan sistem informasi manajemen administrasi desa (SIMPEDES) sejak 2006.
Sedangkan Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan adalah punya potensi utama pada sektor pariwisata air dan kuliner baru, serta sektor pertanian. Waduk Sonorejo atau dikenal PWS (Pesona Waduk Sonorejo) kini bertransformasi menjadi destinasi wisata keluarga yang populer di Kabupaten Bojonegoro. Sehingga mampu menjarik kunjungan wisatawan dan mendorong ekonomi masyarakat sekitar.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mendorong untuk selalu meningkatkan desa unggulan agar bisa menjawab tantangan global. “Terima kasih kepada desa untuk memulai keunggulan setiap kecamatan agar punya produk sesuai arahan Bapak Bupati. Saat ini sudah ada tiga desa, maka 25 kecamatan lainnya unggulannya apa. Saat ini mulai Desa CANTIK, ke depan mengikuti keunggulan-keunggulan dari masing-masing kecamatan,” jelasnya, seperti dalam siaran tertulisnya Pemkab Bojonegoro, Kamis (16/4/2026).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro Syawaluddin Siregar menjelaskan Desa Cantik bukanlah beban administrasi desa, melainkan investasi jangka panjang. “Mari kita ubah narasi ‘Desa sebagai Objek Pendataan’ menjadi “Desa sebagai Subjek Pengelola Data’. Karena yang memahami desa ialah warga desa itu sendiri,” katanya.
Editor : Red








