seputarindonesiatv.id || Surabaya, – Paguyuban seni BOREG SURAN Surabaya menggelar kegiatan Halal Bihalal yang dirangkai dengan pesta seni semalam suntuk sebagai upaya mempererat silaturahmi sekaligus melestarikan budaya tradisional, khususnya Reog Ponorogo. Sabtu,18/4/2026.
Kegiatan ini menjadi wadah berkumpulnya para seniman dan masyarakat untuk menjaga eksistensi kesenian daerah di tengah arus modernisasi. Pertunjukan Reog Ponorogo menjadi sajian utama yang menyedot perhatian warga.
Acara ini didukung oleh berbagai Paguyuban Reog dari berbagai wilayah yang menunjukkan solidaritas yang kuat. Beberapa di antaranya adalah Singo Angumboro Joyo, Sardulo Manggolo Putro, Singo Azka Wijoyo, Gembong Singo Tambak, Margo Cipto Utomo, Ki Ageng Bantar Angin, Singo Jala Braja, Tri Sapto Topo, Singo Barong Rekso, Yudho Yuono, Voina Vania, Fauna Alam Persada, hingga Singo Kalilom Joyo.
Reog Ponorogo sendiri telah dikenal sejak sekitar tahun 1920-an, bahkan diyakini lebih tua dari itu. Kesenian ini mengangkat kisah legendaris kepahlawanan Prabu Klana Sewandono dalam menghadapi Raja Singo Barong, yang sarat nilai filosofis, keberanian, dan semangat gotong royong.
Pengakuan dunia terhadap Reog Ponorogo semakin menguat setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada 3 Desember 2024 dalam Sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paraguay. Penetapan ini menegaskan bahwa Reog tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga bagian dari warisan budaya dunia.
Trio Harmoko Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga momentum mempererat kebersamaan.
“Melalui Halal Bihalal ini, kami ingin memperkuat silaturahmi sekaligus menunjukkan bahwa seni tradisi seperti Reog tetap hidup dan diminati lintas generasi,” ujarnya.
Paguyuban BOREG SURAN yang berdiri sejak 2018 dipelopori oleh tiga tokoh seni, dengan Mbah Bukhori sebagai sesepuh. Hingga kini, ia masih aktif membina dan merangkul para seniman untuk terus menjaga kelestarian budaya.
“Meskipun zaman terus berubah, kami ingin generasi muda tetap mencintai budaya sendiri. Reog bukan sekadar pertunjukan, tetapi identitas,” ungkap Mbah Bukhori.
Acara yang berlangsung semalam suntuk ini diisi berbagai pertunjukan seni dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Warga dari berbagai kalangan tampak hadir memadati lokasi kegiatan.
Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh sesepuh BOREG SURAN yang akrab disapa Mbah Jan, Kapolsek Kenjeran, Lurah Kalilom beserta jajaran staf, serta Sutrisno selaku Ketua PURBAYA Surabaya.
Melalui kegiatan ini, BOREG SURAN menegaskan komitmennya untuk terus uri-uri budaya, yakni menjaga dan melestarikan kesenian asli Nusantara agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.
Editor : Red





